Rabu, 19 Januari 2011

MUSNAHKAN SIKAP AROGAN DALAM BERORGANISASI.

Didalam kehidupan didunia tentu manusia tidak dapat hidup sendiri didalam menjalani kehidupan ini, manusia merupakan makhluk sosial yang secara naluriah tak dapat hidup sediri. Didalam kehidupan bermasyarakat tentu tak mungkin dapat dipisahkan dari namanya organisasi, karene segala lingkup kehidupan pada dasarnya merupakan lingkup organisasi yang semuanya mempunyai peranan dan tugas masing-masing. Bahkan dalam struktur terkecil didalam tubuh kita “sel” itu merupakan sebuah organisasi, ada inti neukleous yang berperan sebagai inti dan pengatur bagi kerja bagian-bagian yang lain.

Seperti semua hal yang ada didunia ini, tentulah ada saja yang menghalangi dan dapat merusak tatanan organisasi. Ada yang bersifat ekstern maupun intern. Bersifat intern artinya halangan itu berasal dari dalam organisasi itu sendiri, misalnya egoisme dari para penyokong dari organisasi tersebut sampai dengan sikap argansi yang ditunjukan oleh ketua atau pemimpin dari organisasi tersebut.

Sikap arogan pada dasarnya bukanlah sikap yang baik di dalam organisasi, akan tetapi sikap ini kadang kala diperlukan bagi seorang pemimpin, misalnya ketika seorang pemimpin dengan penuh pertimbangan yang benar-benar matang ingin mengambil keputusan yang mampu memajukan organisasi, akan tetapi tidak mendapatkan persetujuan dari para anggota hanya dengan alasan keluar dari kebiasaan lama maka sikap arogansi disini diperbolehkan, selama tidak melebihi batasan-batasan undang-undang ataupun kesepakatan yang telah ter jadi sebelum nya.

akan tetapi sikap arogan dari pemimpin sebetulnya lebih condong ke arah yang lebih buruk, cobalah simak cerita dibawah ini:




Kisah Sebuah Cangkir

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencarihadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuahcangkir yang cantik. "Lihat cangkir itu," kata sinenek kepada suaminya. "Kau benar, inilahcangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.

Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop! Stop! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "belum !"lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata "belum !"

Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir,selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum.Setelah dingin aku diberikan kepada seorangwanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop !

Aku berteriak. Wanita itu berkata "belum !" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku.Ia terus membakarku.

Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena dihadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

Renungan :
Seperti inilah Tuhan membentuk kita. Pada saat Tuhan membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi-Nya untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan-Nya.

"Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan,apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun."

Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Dia sedang membentuk Anda. Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai, Anda akan melihat betapa cantiknya Tuhan membentuk Anda

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar